Rabu, 26 November 2014

laporan arus kas pt indofod sukses makmur tbk

Laporan keuangan merupakan alat untuk memperoleh informasi mengenai posisi keuangan dan hasil operasi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan. Informasi ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, baik oleh manajemen perusahaan maupun pihak ekstern. Keputusan yang berdasarkan laporan keuangan dapat berupa keputusan investasi, pemberian pinjaman, maupun manajemen dalam pengelolaan perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasinya. Keputusan yang diambil tersebut haruslah tepat karena akan berpengaruh besar pada perusahaan itu sendiri dan lingkungan ekonomi, serta agar tidak terjadi kesenjangan diantara keduanya. Berkaitan dengan hal di atas maka perusahaan harus menyajikan laporan keuangan secara lengkap dan menggambarkan keberadaan perusa-haan yang sebenarnya, akan tetapi laporan keuangan yang disusun dan disajikan harus dapat dipertanggung-jawabkan keakuratannya oleh manaj-emen perusahaan.
Laporan keuangan yang lengkap menurut PSAK No. 1 (Revisi 2009) yang disahkan pada tanggal 15 Desember 2009 terdiri dari, laporan posisi keuangan pada akhir periode (neraca), laporan laba rugi kompre-hensif selama periode, laporan perubahan ekuitas selama periode, laporan arus kas selama periode, catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lain, dan laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebija-kan akuntansi secara restrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.
Laporan keuangan sangat diper-lukan untuk mengukur hasil usaha dan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu, untuk mengetahui sudah sejauh mana perusahaan mencapai tujuannya dan untuk menilai kinerja keuangan dari suatu perusahaan. Maka dari itu diperlukan analisa agar terlihat kelemahan-kelemahan perusahaan serta hasil yang dianggap baik, kemudian hasil analisa tersebut digunakan untuk membuat perbaikan penyusunan rencana yang akan dilakukan untuk masa yang akan datang.
Adapun rasio yang digunakan dalam menilai kinerja keuangan perusahaan yang berupa analisis rasio arus kas terdiri dari rasio-rasio sebagai berikut: Rasio Arus Kas Operasi (AKO) digunakan untuk menghitung kemampuan arus kas operasi dalam membayar kewajiban lancar. Rasio Cakupan Arus Dana (CAD) digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas guna membayar komitmen-komitmennya. Rasio Cakupan Kas terhadap Bunga (CKB) digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atas hutang yang telah ada. Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar (CKHL) digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancar berdasarkan arus kas operasi bersih. Rasio Pengeluaran Modal (PM) digunakan untuk mengukur modal tersedia untuk investasi dan pembayaran hutang yang ada. Rasio Total Hutang (TH) menunjukkan jangka waktu pembayaran hutang oleh perusahaan dengan asumsi semua arus kas operasi digunakan untuk membayar hutang. Rasio Arus Kas Bersih Bebas (AKBB) berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban kas dimasa mendatang.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk, merupakan produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1990 oleh Sudono Salim dengan nama Panganjaya Intikusuma yang pada tahun 1994 menjadi Indofood. Perusahaan ini mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia, dan Eropa.
Pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, laporan arus kas disajikan sesuai dengan PSAK 2 (Revisi 2009) dengan menggunakan metode langsung dimana penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Informasi yang disajikan dalam laporan arus kas berguna bagi para pemakai laporan keuangan, baik bagi pihak manajemen, investor, kreditor maupun pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, sebagai dasar untuk menilai kinerja perusahaan. Hasil kinerja perusahaan sangat berguna bagi pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan, dan berguna untuk bahan evaluasi dan perbaikan kebijakan perusahaan untuk masa yang akan datang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menilai kinerja keuangan perusahaan berdasarkan informasi arus kas dalam bentuk rasio.

TINJAUAN PUSTAKA
Laporan keuangan merupakan alat untuk memperoleh informasi mengenai posisi keuangan dan hasil operasi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan. Informasi ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, baik oleh manajemen perusahaan maupun pihak ekstern. Keputusan yang berdasarkan laporan keuangan dapat berupa keputusan investasi, pemberian pinjaman, maupun manajemen dalam pengelolaan perusa haan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasinya.
Ada beberapa pengertian laporan keuangan menurut pendapat para ahli. Menurut Munawir (2004: 2), “Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan” sedangkan Kieso et.al. (2011: 5) menyebutkan bahwa “Financial statements are the principal means through which a company communicates its financial informastion to those outside it.
Menurut Harahap (2007:105), laporan keuangan dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan, hasil usaha perusahaan dalam suatu periode, dan arus dana (kas) perusahaan dalam periode tertentu. Sedangkan definisi laporan keuangan menurut PSAK No. 1 (Revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan paragraf 9 (IAI, 2009: 01.5) adalah Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas.”
Menurut Harahap (2007:243) laporan arus kas adalah suatu laporan yang bertujuan untuk memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas atau setara kas dari suatu perusahaan pada suatu periode tertentu. Sedangkan laporan arus kas menurut Kieso (2002:372) adalah Laporan arus kas melaporkan penerimaan kas, pembayaran kas, dan perubahan bersih kas dari kegiatan operasi, investasi, serta pembiayaan perusahaan selama suatu periode, dalam bentuk yang dapat merekonsiliasi saldo kas awal dan akhir.
Kas adalah uang tunai yang paling likuid sehingga pos ini biasanya ditempatkan pada urutan teratas dari aset. Yang termasuk dalam kas adalah seluruh alat pembayaran yang dapat digunakan dengan segera seperti uang kertas, uang logam, dan saldo rekening giro di bank. Kas dapat dikatakan merupakan satu-satunya pos yang paling penting dalam neraca. Karena berlaku sebagai alat tukar dalam perekonomian kita, kas terlihat secara langsung atau tidak langsung dalam hampir semua transaksi usaha. Hal ini sesuai dengan sifat-sifat kas yaitu :
1)      Kas terlalu terlibat dalam hampir semua transaksi perusahaan.
2)      Kas merupakan harta yang siap dan mudah untuk digunakan dalam transaksi serta ditukarkan dengan harta lain, mudah dipindahkan dan beragam tanpa tanda pemilik.
3)      Jumlah uang kas yang dimiliki oleh perusahaan harus dijaga sedemikian rupa sehingga tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit/kurang.
Setara kas adalah investasi yang sifatnya likuid, berjangka pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan. Pada umumnya, hanya investasi dengan masa jatuh tempo tiga bulan atau kurang yang memenuhi syarat sebagai setara kas. Deposito yang jatuh temponya kurang atau sama dengan tiga bulan dan tidak diperpanjang terus-menerus (rollover) dapat dikategorikan sebagai setara kas.
Menurut Munawir (2004:242) Kas adalah jumlah uang tunai yang ada di perusahaan dan rekening giro simpanan-simpanan di bank yang pengambilannya tidak dibatasi baik dalam waktu maupun jumlahnya, dan investasi jangka pendek yang secara formal disebut kas dan setara kas. Menurut Soemarso (2004:365) yang dimaksud dengan kas adalah sesuatu (baik yang berbentuk uang atau bukan) yang dapat tersedia dengan segera dan diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya. Termasuk sebagai kas adalah rekening giro di bank dan uang kas yang ada di perusahaan. Diterima pada nilai nominal sewaktu diuangkan merupakan petunjuk untuk menentukan apakah suatu surat berharga dapat dianggap sebagai kas”.
Laporan arus kas disusun dengan tujuan untuk memberikan informasi historis mengenai perubahan kas dari suatu perusahaan, dengan mengklasi fikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan selama periode tertentu. Dengan demikian, tujuan utama laporan arus kas adalah untuk memberikan kepada para pengguna informasi tentang mengapa posisi kas perusahaan berubah selama periode tertentu.
Laporan arus kas ini akan sangat berguna untuk menentukan kebijakan-kebijakan perusahaan dalam menja lankan kegiatan operasinya. Sedangkan bagi pihak ekstern akan berguna sebagai salah satu alternatif analisa dalam pengalokasian modal mereka. Peman tauan dalam penggunaan dana khususnya arus kas perusahaan semakin menjadi perhatian utama para manajer dan para kreditor. Hal tersebut dimaksudkan agar perusahaan tetap terjaga tingkat likui ditasnya.
Kinerja keuangan dapat dikatakan sebagai hasil yang dicapai oleh perusahaan atas berbagai aktivitas yang dilakukan dalam mendayagunakan sumber keuangan yang tersedia. Kinerja keuangan dapat dilihat dari análisis laporan keuangan atau análisis rasio keuangan. Menurut Habib (2008 : 91) bahwa Kinerja keuangan diukur dengan banyak indikator, salah satunya adalah análisis rasio keuangan. Untuk melakukan análisis rasio keuangan tersebut diperlukan perhitungan rasio rasio keuangan yang mencerminkan aspek aspek tertentu. Rasio keuangan diperoleh dengan cara menghubungkan dua atau lebih data keuangan.
Munawir (2004:31) menyatakan bahwa tujuan dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan adalah mengetahui tingkat likuiditas, mengetahui tingkat solvabilitas, mengetahui tingkat renta bilitas, mengetahui tingkat stabilitas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengukuran kinerja keuangan memberikan penilaian atas pengelolaan aset perusahaan oleh manajemen dan manajemen perusahaan dituntut untuk melakukan evaluasi dan tindakan perbaikan atas kinerja keuangan perusahaan yang tidak sehat.
Menurut Darsono dan Ashari (2005), alat analisis rasio laporan arus kas yang diperlukan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan antara lain:
1)             Rasio Arus Kas Operasi (AKO)
Rasio Arus Kas Operasi menghitung kemampuan arus kas operasi dalam membayar kewajiban lancar. Rasio ini diperoleh dengan membagi arus kas operasi dengan kewajiban lancar.
Rasio arus kas operasi berada dibawah 1 yang berarti terdapat kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban lancar, tanpa menggunakan arus kas dari aktivitas lain.
2)             Rasio Cakupan Arus Dana (CAD)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas guna membayar komitmen-komitmennya (bunga, pajak, dan dividen preferen).
Rasio yang besar menunjukkan bahwa kemampuan yang lebih baik dari laba sebelum pajak dalam menutup komitmen-komitmen yang jatuh tempo dalam satu tahun.
 3)             Rasio Cakupan Kas terhadap Bunga (CKB)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusa haan dalam membayar  bunga atas hutang yang telah ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas dari operasi tambah pembayaran bunga dan pembayaran pajak dibagi pembayaran bunga.
 Dengan rasio yang besar menunjukkan bahwa arus kas operasi mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menutup biaya bunga sehingga kemung kinan perusahaan tidak mampu membayar bunga sangat kecil.
 4)             Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar (CKHL)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancar  berdasarkan arus kas operasi bersih. Rasio ini diperoleh dengan arus kas operasi ditambah dividen kas dibagi dengan hutang lancar.
 Rasio yang rendah menunjukkan kemampuan yang rendah dari arus kas operasi dalam menutup hutang lancar.
 5)        Rasio Pengeluaran Modal (PM)
Rasio ini digunakan untuk mengu kur modal tersedia untuk investasi dan pembayaran hutang yang ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas operasi dibagi dengan pengeluaran modal.
 Rasio yang tinggi menunjukkan kemampuan yang tinggi dari arus kas dalam membiayai pengeluaran modal.
6)        Rasio Total Hutang (TH)
Rasio ini diperoleh dari arus kas operasi dibagi dengan total hutang. dengan rasio ini bisa diketahui berapa lama perusahaan akan mampu membayar hutang dengan menggunakan arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi.
Rasio yang cukup rendah menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam membayar semua kewajibannya dari arus kas yang berasal dari aktivitas normal operasi perusahaan.
 7)        Rasio Arus Kas Bersih Bebas (AKBB)
Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban kas dimasa mendatang.

 Diningrat (2008) melakukan pene litian pengaruh informasi arus kas terhadap pengambilan keputusan investasi tanaman pada PT Perkebunan Nusantara III, dimana hasil penelitian menunjukan rasio
 kecukupan arus kas dan rasio reinvestasi secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terha dap investasi tanaman, sedangkan pada rasio pengeluaran modal menunjukan pe ngaruh yang signifikan terhadap in vestasi tanaman.
Akmal (2010) melakukan pene litian dengan judul Analisa Laporan Arus Kas Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Perusahaan pada PT. Aqua Golden Mississippi Tbk. Dari hasil analisa melalui rasio arus kas (Rasio arus kas operasi, rasio arus kas dana, rasio cakupan kas terhadap hutang lancar, rasio cakupan kas terhadap bunga. rasio pengeluaran modal, rasio total hutang, rasio arus kas bersih bebas, dan rasio kecukupan arus kas) kinerja laporan arus kas PT. Aqua Golden Mississippi Tbk menunjukkan kinerja yang baik.
Marina (2008) dengan penelititan tentang Pengaruh Kas Terhadap Tingkat Likuiditas Perusahaan pada Perusahaan Industri Semen go publik yang terdaftar di BEI dengan hasil penelitian bahwa tingkat likuiditas yang dimiliki ketiga perusahaan industri semen dinilai cukup tinggi, hal ini terlihat dari perhitungan rasio likuiditas masing masing perusahaan, dimana rasio yang digunakan adalah Working capital to total asset, current liabilities to inventory, operating income to total assets, total asset turnover.
 METODE PENELITIAN
Objek penelitian yang digunakan adalah data laporan keuangan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. yang berdomisili di Jalan Jenderal Sudirman kav. 76-78, Jakarta. Metode yang digunakan ini adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan kuantitatif, yaitu hasil penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulan.
Desain penelitian pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1)   Identifikasi masalah yaitu bagaimana kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan menggunakan analisis informasi arus kas dalam bentuk rasio arus kas.
2)   Merumuskan masalah, dalam penelitian ini adalah: bagaimana kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan menggunakan analisis informasi arus kas dalam bentuk rasio arus kas.
3)   Memilih serta memberi definisi terhadap setiap pengukuran variable. Penelitian ini hanya terdapat dua variable yaitu laporan arus kas (variable independent) dan rasio rasio arus kas (variable dependen).
4)   Menentukan sampel. Sampel yang diambil pada penelitian ini berasal dari laporan keuangan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, yaitu data laporan keuangan khususnya laporan arus kas periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.
5)   Memilih teknik pengumpulan data-data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan 2 cara yaitu: pengumpulan data melalui data yang didokumentasikan melalui lembaga seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan penelitian kepustakaan atau data yang diperoleh dari sumber lain seperti: buku atau literature,
6)   Menghitung besarnya masing masing rasio laporan arus kas dari rasio arus kas yang digunakan dalam penelitian ini.
7)   Pelaporan hasil penelitian termasuk proses penelitian dan interpretasikan
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang bersumber dari data sekunder berupa data laporan keuangan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. dari tahun 2007 – 2011 (sebanyak lima periode) beserta dokumen lainnya yang diperlukan.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif. Maksud dan tujuan digunakannya metode ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kebenaran atas informasi yang didapat, apakah dapat dipertanggung jawabkan atau tidak serta memudahkan dalam mengambil kesim pulan berdasarkan nilai yang dihasilkan. Disamping itu, penulis juga menggu nakan analisis data yang dilakukan secara deskriptif dengan memaparkan suatu permasalahan berdasarkan landa san teori yang kuat melalui studi pustaka sehingga diharapkan dapat memperoleh kesimpulan yang ilmiah. Berikut metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini:
1)        Rasio Arus Kas Operasi (AKO)
Rasio Arus Kas Operasi menghitung kemampuan arus kas operasi dalam membayar kewajiban lancar. Rasio ini diperoleh dengan membagi arus kas operasi dengan kewajiban lancar.
Rasio arus kas operasi berada dibawah 1 yang berarti terdapat ke mungkinan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban lancar, tanpa menggunakan arus kas dari aktivitas lain.
 2)        Rasio Cakupan Arus Dana (CAD)
Rasio ini digunakan untuk menge tahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas guna membayar komitmen-komitmennya (bunga, pajak, dan dividen preferen).
Rasio yang besar menunjukkan bahwa kemampuan yang lebih baik dari laba sebelum pajak dalam menutup komitmen-komitmen yang jatuh tempo dalam satu tahun.
 3)             Rasio Cakupan Kas terhadap Bunga (CKB)
Rasio ini digunakan untuk me ngetahui kemampuan perusa haan dalam membayar  bunga atas hutang yang telah ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas dari operasi tambah pembayaran bunga dan pembayaran pajak dibagi pembayaran bunga.
 Dengan rasio yang besar menunjukkan bahwa arus kas operasi mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menutup biaya bunga sehingga kemu ngkinan perusahaan tidak mampu membayar bunga sangat kecil.
 4)             Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar (CKHL)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancar  berdasarkan arus kas operasi bersih. Rasio ini diperoleh dengan arus kas operasi ditambah dividen kas dibagi dengan hutang lancar.
 Rasio yang rendah menunjukkan kemampuan yang rendah dari arus kas operasi dalam menutup hutang lancar.
 5)             Rasio Pengeluaran Modal (PM)
Rasio ini digunakan untuk mengukur modal tersedia untuk investasi dan pembayaran hutang yang ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas operasi dibagi dengan pengeluaran modal.
Rasio yang tinggi menunjukkan kemampuan yang tinggi dari arus kas dalam membiayai pengeluaran modal.
 6)             Rasio Total Hutang (TH)
Rasio ini diperoleh dari arus kas operasi dibagi dengan total hutang. dengan rasio ini bisa diketahui berapa lama perusahaan akan mampu membayar hutang dengan menggunakan arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi.
Rasio yang cukup rendah menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam membayar semua kewajibannya dari arus kas yang berasal dari aktivitas normal operasi perusahaan.
 7)             Rasio Arus Kas Bersih Bebas (AKBB)
Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban kas dimasa mendatang.

 Dari semua rasio rasio diatas akan dilakukan analisis berdasarkan nilai masing masing rasio yang dihasilkan, dan ditarik kesimpulan bagaimana kinerja PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.
 HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam analisis laporan arus kas ini objek penelitian yang digunakan adalah laporan arus kas PT. Indofood Sukses Makmur selama jangka waktu 5 (lima) tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2011. Berikut ini adalah laporan arus kas PT. Indofood Sukses Makmur dalam kurun waktu selama 5 (lima) tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.

Tabel 1
Laporan Arus Kas PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk
Tahun 2007 – 2011
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
2007
2008
2009
2010
2011
-
Penerimaan Kas dari Pelanggan
27.170.074
39.048.055
37.701.234
37.959.043
44.820.937
-
Pembayaran Kas kepada Pemasok
(17.296.724)
(24.565.545)
(21.722.755)
(17.400.278)
(24.867.074)
-
Pembayaran Untuk B. Produksi & Usaha
(3.766.853)
(6.946.196)
(7.288.644)
(7.502.472)
(9.317.685)
-
Pembayaran kepada Karyawan
(2.214.666)
(2.504.346)
(2.941.835)
(3.147.791)
(3.396.541)
Kas yang diperoleh dari Operasi
3.891.831
5.031.968
5.748.000
9.908.502
7.239.637
-
Penerimaan Penghasilan Bunga
158.347
174.032
163.850
163.591
436.017
-
Pembayaran Pajak
(706.326)
(1.349.469)
(1.939.672)
(1.889.463)
(1.831.108)
-
Pembayaran Bunga
(739.693)
(1.054.920)
(1.571.142)
(1.179.098)
(877.012)
-
Lainnya
9.600
(116.805)
248.436
(13.798)
1.457
Kas Neto dari Aktivitas Operasi
2.613.759
2.684.806
2.649.472
6.989.734
4.968.991
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
-
Penerimaan Penjualan Aset Tetap
62.362
59.498
56.180
57.988
49.409
-
Penambahan Aset Tetap
(1.169.762)
(2.332.303)
(2.917.901)
(2.567.110)
(2.906.415)
-
Penambahan Investasi di Entitas Asosiasi
-
-
-
(11.867)
(81.210)
-
Penambahan Investasi Jangka Pendek
(1.000)
(337.113)
-
-
-
-
Kepentingan Non Pengendali
-
-
(115.965)
(263.059)
(14.590)
-
Penerimaan dari investasi oleh Entitas Anak
(17.267)
(37.762)
-
764.252
-
-
Kapitalisasi Beban Tanaman Tabu Ditangguhkan
-
-
(57.694)
(61.107)
(145.468)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
2007
2008
2009
2010
2011
-
Penerimaan dari investasi Jangka Pendek
279.591
-
383.739
-
-
-
Uang Muka Pembelian Aset
(109.458)
(866.538)
(172.440)
-
-
-
Pembayaran akuisis investasi saham
(5.499.219)
(3.919.248)
-
-
-
-
Lainnya
-
(141.748)
-
-
-
Kas Neto dari Aktivitas Investasi
(6.454.753)
(7.575.214)
(2.824.081)
(2.080.903)
(3.098.274)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
-
Penerimaan Utang Bank Jangka Pendek
7.265.558
7.493.537
5.963.548
2.572.775
3.423.492
-
Penerbitan Saham Baru Entitas Anak
-
-
-
6.086.340
3.349.449
-
Penerimaan dari Utang Jangka Panjang
294.544
4.277.137
4.351.612
2.957.708
1.016.359
-
Pembayaran Utang Bank Jangka Pendek
(3.600.689)
(5.784.761)
(8.337.998)
(5.289.362)
(2.873.492)
-
Pembayaran Utang Bank Jangka Panjang
(2.025.216)
(300.511)
(2.058.159)
(4.460.002)
(2.528.085)
-
Pembayaran Deviden Kas
(264.386)
(366.730)
(412.680)
(816.580)
(1.167.798)
-
Pembayaran Deviden Kas Non Pengendali
(5.621)
(19.410)
(146.130)
(159.474)
(345.686)
-
Pembelian Saham Treasuri Entitas Anak
2.454.949
-
-
-
(81.413)
-
Pembayaran Utang Pembelian Aset Tetap
-
-
(2.694)
(4.020)
(9.789)
-
Pembayaran Utang Sewa Pembiayaan
-
-
(7.903)
(5.223)
(971)
-
Penerimaan Penjualan Saham Treasuri
-
602.597
187.766
173.435
-
-
Penerimaan Setoran Modal Non Pengendali
-
-
-
14.917
-
-
Penerbitan Obligasi Rupiah V
1.984.575
-
1.597.998
-
-
-
Pembayaran Obligasi yang Jatuh Tempo
-
(1.226.500)
(976.000)
-
-
-
Pembelian Kembali Obligasi Rupiah IV
-
-
-
(36.795)
-
-
Penerbitan Obligasi Entitas Anak
-
-
721.699
-
-
-
Modal Saham yang Diperoleh Kembali
-
(74.806)
-
-
-
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
2007
2008
2009
2010
2011
Kas Neto dari Aktivitas Pendanaan
6.103.714
4.600.553
881.059
1.033.719
782.066
Kenaikan Neto Kas dan Setara Kas
2.262.720
(289.855)
706.450
5.942.550
2.652.783
Dampak Perubahan Nilai Tukar
-
-
(334.965)
(88.388)
24.423
Kas dan Setara Kas Entitas Anak yang Baru Diakuisisi
476.530
23.012
68
-
-
Kas dan Setara Kas Awal Tahun
1.798.801
4.538.051
4.103.276
4.474.829
10.328.991
Kas dan Setara Kas Akhir Tahun
4.538.051
4.271.208
4.474.829
10.328.991
13.006.197


Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa laporan arus kas PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk menyajikan penerimaan dan pembayaran dari kas yang diklasifikasikan ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan yang disajikan dengan metode langsung. Selama 5 (lima) tahun berturut turut saldo kas PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk mengalami surplus serta pening-katan yang signifikan khususnya pada tahun 2010. Pada tahun 2007 – 2009 saldo kas akhir tahun berada pada kisaran yang sama, namun terjadi peningkatan lebih dari 100% pada tahun 2010 dan 2011.
Pada tahun 2007 kas dari aktivitas operasi berjumlah 3.891.831 dan naik sebesesar 29% pada tahun 2008 menjadi 5.031.968. pada tahun 2009 jumlah kas operasi adalah sebesar 5.748.000 atau naik sebesar 14% dari tahun 2008. Kenaikan yang tinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 72% atau sebesar 9.908.502 dan jika dibandingkan dengan tahun 2011
 menurun sebesar 37% menjadi 7.239.637.
 Analisis Rasio Arus Kas PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk
Rasio Arus Kas Operasi (AKO)
Rasio ini digunakan untuk menghitung kecukupan arus kas operasi dalam membayar kewajiban jangka pendek, untuk mencari rasio arus kas operasi dapat dihitung melalui rumus berikut :
 Jikarasio arus kas operasi berada dibawah 1 berarti terdapat kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban lancarnya, tanpa menggunakan arus kas dari aktivitas lain. Berikut hasil perhitungan arus kas operasi PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk seperti yang terlihat pada Tabel 2. di bawah ini
Tabel 2
Rasio Arus Kas Operasi (AKO)
Tahun 2007 – 2011
Tahun
Arus Kas Operasi
Kewajiban Lancar
%
2007
2.613.759
12.888.677
0,20
2008
2.684.806
16.262.161
0,17
2009
2.649.472
11.148.529
0,24
2010
6.989.734
9.859.118
0,71
2011
4.968.991
12.831.304
0,39
Sumber : data diolah

Dari hasil perhitungan pada tabel 2 di atas terlihat bahwa rasio arus kas operasi cendrung fluktuatif, untuk tahun 2007 persentase dari rasio arus kas operasi adalah sebesar 0,20 yang berarti untuk setiap seratus rupiah kewajiban lancar dijamin dengan 20,0 rupiah arus kas operasi. Pada tahun 2008 terjadi penurunan sebesar 3% menjadi 0,17 yang berarti kemampuan perusahaan dalam membayar setiap seratus rupiah kewajiban lancarnya melalui arus kas operasi turun menjadi 17,0 rupiah, dan rasio ini merupakan rasio terkecil sepanjang lima tahun tersebut. Pada tahun 2009 rasio arus kas operasi mengalami peningkatan dari tahun 2008 sebesar 7% menjadi 0,24 yang berarti terjadi peningkatan kemampuan perusahaan dalam membayar setiap seratus rupiah kewajiban lancarnya menjadi 24,0 rupiah. Kemudian pada
tahun 2010 rasio arus kas operasi meningkat tajam menjadi 0,71 atau naik sebesar 50% dari tahun 2009, hal ini dikarenakan tingginya arus kas operasi pada tahun tersebut dan dibarengi dengan menurunnya jumlah kewajiban lancar, sehingga setiap seratus rupiah kewajiban lancar mampu dijamin oleh arus kas operasi sebesar 71,0 rupiah. Dan pada tahun 2011 rasio arus kas operasi kembali mengalami penurunan dari tahun 2010 sebesar
32% menjadi 0,39, sehingga setiap seratus rupiah kewajiban lancar perusahaan hanya mampu dijamin oleh 39,0 rupiah arus kas operasi.
Dari data PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk tahun 2007 sampai dengan 2011 rasio arus kas operasi cendrung fluktuatif, dan rasio tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 0,71. Namun walaupun terjadi peningkatan rasio pada tahun 2010, nilai rasio yang dihasilkan selama lima tahun tersebut kurang dari 1 (satu) sehingga kemungkinan besar perusahaan tidak mampu membayar kewajiban lancarnya melalui arus kas dari aktivitas operasi saja.
 Rasio Cakupan Arus Dana (CAD)
Rasio ini menunjukkan bagaimana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas guna membayar komitmen-komitmennya (bunga, pajak dan dividen preferen). Rasio ini diperoleh dari :
 Rasio yang besar menunjukkan bahwa kemampuan yang lebih baik dari laba sebelum pajak dalam menutup komitmen-komitmen yang jatuh tempo dalam satu tahun. Berikut penulis lampirkan hasil perhitungan rasio cakupan arus dana seperti yang terlihat pada tabel 3. di bawah ini.
Tabel 3
Rasio Cakupan Arus Dana (CAD)
Tahun 2007 – 2011
Tahun
EBIT
Pembayaran Bunga
Hutang Pajak

Deviden Preferen
Perputaran
   
2007
2.041.409
739.693
496.279
-
1,65 Kali
2008
2.599.823
1.054.920
598.091
-
1,57 Kali
2009
4.063.813
1.571.142
629.569
-
1,85 Kali
2010
5.432.375
1.179.098
466.793
-
3,30 Kali
2011
6.352.389
877.012
417.870
-
4,91 Kali
Sumber : data diolah
 Dari hasil perhitungan pada tabel 3 di atas terlihat bahwa rasio cakupan arus dana untuk tahun 2007 adalah sebesar 1,65 yang berarti bahwa kemampuan laba dalam menutup komitmen-komitmen yang akan jatuh tempo adalah 1 kali, atau jumlah laba pada tahun 2007 hanya mampu menutupi satu kali jumlah komitmen komitmen yang akan jatuh tempo pada tahun tersebut. Sedangkan untuk tahun 2008 rasio cakupan arus dana adalah sebesar 1,57 yang berarti laba tahun 2008 juga hanya mampu menutupi satu kali jumlah komitmen komitmen yang akan jatuh tempo pada tahun tersebut. Pada tahun 2009 terjadi sedikit kenaikan yaitu sebesar 0,28% menjadi 1,85 dimana laba mampu menutupi hampir dua kali lipat dari komitmen komitmen yang akan jatuh tempo pada tahun tersebut. Pada tahun
 2010 rasio cakupan arus dana naik sebesar 1,45% dari tahun 2009 menjadi 3,30 hal ini terjadi karena meningkatnya laba operasi perusahaan serta turunnya jumlah pembayaran bunga, sehingga kemampuan perusahaan dalam membayar komitmen
 komitmen yang akan jatuh tempo pada tahun 2010 melalui laba perusahaan meningkat menjadi 3 kali lipat. Dan pada tahun 2011 kembali mengalami peningkatan sebesar 1,61% menjadi 4,91 sehingga laba perusahaan mampu menutupi hampir lima kali dari jumlah komitmen komitmen yang akan jatuh tempo, dan hal ini juga karena tingginya kenaikan laba dan tingginya penurunan jumlah pembayaran bunga.
Dari 5 tahun berturut turut (2007 – 2011) terlihat bahwa terjadi perbaikan dan peningkatan rasio cakupan dana khususnya pada tahun 2010 dan tahun 2011, yang berarti laba sebelum pajak PT. Indofood Sukses Makmur mengalami peningkatan yang cukup baik dan dibarengi dengan tingginya jumlah penurunan pembayaran bunga. Namun, dari nilai nilai rasio yang dihasilkan pada tahun 2007 – 2009 masih cukup rendah dan mengalami sedikit perbaikan pada tahun 2010 dan tahun 2011.
 Rasio Cakupan Kas terhadap Bunga (CKB)
Rasio cakupan kas terhadap bunga digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atas hutang yang telah ada. Rasio ini diperoleh dari arus kas operasi tambah pembayaran bunga dan pembayaran pajak dan dibagi dengan pembayaran bunga.
 Dengan rasio yang besar menunjukkan bahwa arus kas operasi mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menutup biaya bunga sehingga kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar bunga sangat kecil. Hasil perhitungan rasio cakupan kas terhadap bunga seperti yang terlihat pada tabel 4. di bawah ini.
Tabel 4
Rasio Cakupan Kas Terhadap Bunga (CKB)
Tahun 2007 – 2011
Tahun
Arus Kas Operasi
Pembayaran Bunga
Pembayaran Pajak
Perputaran
2007
2.613.759
739.693
706.326
5,49 Kali
2008
2.684.806
1.054.920
1.349.469
4,82 Kali
2009
2.649.472
1.571.142
1.939.672
3,92 Kali
2010
6.989.734
1.179.098
1.889.463
8,53 Kali
2011
4.968.991
877.012
1.831.108
8,75 Kali
Sumber : data diolah
 Dari hasil perhitungan pada tabel 4. terlihat bahwa rasio cakupan kas terhadap bunga untuk tahun 2007 adalah sebesar 5,49 yang berarti bahwa kemampuan arus kas operasi dalam menutup biaya bunga adalah 5 kali atau sebanyak lima kali dari jumlah biaya bunga tahun 2007 mampu ditutupi oleh arus kas operasi pada tahun tersebut. Pada tahun 2008 rasio cakupan kas terhadap bunga adalah 4,82 atau turun sebesar 0,67% dari tahun 2007 sehingga arus kas operasi hanya mampu menutupi kurang dari lima kali biaya bunga yang ada pada tahun tersebut. Pada tahun 2009 terjadi lagi penurunan 0,90% dari tahun 2008 menjadi 3,92 dan merupakan rasio terkecil sepanjang lima tahun tersebut, hal ini dikarenakan pada tahun 2009 pembayaran bunga dan pajak cukup tinggi dibandingkan tahun tahun selainnya, sehingga kemampuan arus kas operasi dalam menutupi biaya bunga turun menjadi 4 kali. Untuk tahun 2010 terjadi peningkatan sebesar 4,61% dari tahun 2009 menjadi 8,53 kali yang berarti terjadi peningkatan kemampuan kas operasi dalam menutupi biaya bunga menjadi 8 kali. Sedangkan pada tahun 2011 rasio cakupan arus kas terhadap bunga adalah sebesar 8,75 meningkat sebesar 0,22% dari tahun 2010 yang berarti arus kas operasi mampu menutupi hampir sembilan kali biaya bunga yang ada pada tahun tersebut.
Rasio cakupan arus kas terhadap bunga selama lima tahun berturut turut (2007–2011) mengalami penurunan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009, namun terjadi peningkatan pada tahun 2010 dan 2011 yang berarti kemampuan arus kas operasi dalam menutup biaya bunga perusahaan mengalami peningkatan khususnya pada tahun tahun terakhir yaitu tahun 2010 dan tahun 2011.
 Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar (CKHL)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancar berdasarkan arus kas operasi bersih setelah ditambah dengan dividen kas.
 Rasio yang rendah menunjukkan kemampuan yang rendah dari arus kas operasi dalam menutup hutang lancar. Hasil perhitungan rasio kas terhadap hutang lancar seperti yang tertera pada tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5
Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar (CKHL)
Tahun 2007 – 2011
         
Tahun
Arus Kas Operasi
Deviden Kas
Hutang
Lancar
Perputaran
2007
2.613.759
-
12.888.677
0,20 Kali
2008
2.684.806
-
16.262.161
0,17 Kali
2009
2.649.472
-
11.148.529
0,24 Kali
2010
6.989.734
-
9.859.118
0,71 Kali
2011
4.968.991
-
12.831.304
0,39 Kali
Sumber : data diolah
 Dari hasil perhitungan pada tabel 5 diatas terlihat bahwa pada tahun 2007 rasio cakupan arus kas tetap hutang lancar adalah sebesar 0,20, yang berarti kemampuan arus kas operasi untuk membayar hutang lancar adalah sebesar 0,20 kali atau dari jumlah hutang lancar pada tahun 2007 mampu ditutupi sebanyak 20% oleh arus kas operasi. Pada tahun 2008 kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancarnya turun sebesar 0,03% dari tahun 2007 menjadi 0,17 sehingga jumlah arus kas operasi hanya mampu menutupi 17% dari jumlah hutang lancar pada tahun tersebut. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan sebesar 0,07% dari tahun 2008 menjadi 0,24 yang berarti kemampuan arus kas operasi dalam memabayar hutang lancarnya adalah sebesar 0,24 kali atau hanya sebesar 24% dari jumlah hutang lancar yang mampu ditutupi oleh arus kas operasi. Pada tahun 2010 kemabali
 mengalami peningkatan sebesar 0,47% dari tahun 2009 menjadi 0,71 yang berarti arus kas operasi mampu membayar hutang lancar sebesar 0,71 kali, atau sebesar 71% dari hutang lancar mampu ditutupi oleh arus kas operasi. Hal ini terjadi karena arus kas operasi pada tahun tersebut mengalami peningkatan yang cukup tinggi dan dibarengi dengan menurunnya jumlah hutang lancar. Pada tahun 2011 rasio cakupan arus kas terhadap hutang lancar turun sebesar 0,32% menjadi 0,39 kali karena pada tahun 2007 jumlah arus kas operasi mengalami penurunan sementara hutang lancar pada tahun tersebut cukup tinggi.
Dalam rentang 5 tahun ini (2007 – 2011) PT. Indofood Sukses Makmur menunjukkan kemampuan arus kas operasi yang rendah dalam menutupi hutang lancar. Dan dari rasio rasio yang dihasilkan terlihat adanya perbaikan dan peningkatan pada tahun 2010 dan 2011, namun tetap menunjukkan nilai rasio yang rendah sehingga kemungkinan perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menutupi hutang lancarnya.
Rasio Pengeluaran Modal (PM)
Rasio ini digunakan untuk mengukur modal tersedia untuk investasi dan pembayaran hutang yang ada. Rasio ini diperoleh dengan rumus sebagai berikut:
Rasio yang tinggi menunjukkan kemampuan yang tinggi dari arus kas dalam membiayai pengeluaran modal. Hasil rasio pengeluaran modal selama lima tahun berturut-turut seperti yang terlihat pada tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6.
Rasio Pengeluaran Modal (PM)
Tahun 2007 – 2011
Tahun
Arus Kas Operasi
Pengeluaran Modal
Perputaran
2007
2.613.759
1.169.762
2,23 Kali
2008
2.684.806
2.332.303
1,15 Kali
2009
2.649.472
2.917.901
0,91 Kali
2010
6.989.734
2.567.110
2,72 Kali
2011
4.968.991
2.906.415
1,71 Kali
Sumber : data diolah
 Dari hasil perhitungan pada tabel 6 diatas terlihat bahwa rasio pengeluaran modal untuk tahun 2007 adalah 2,23 yang berarti kemampuan arus kas operasi dalam membiayai pengeluaran modal sebesar 2,23 kali, sedangkan untuk tahun 2008 sebesar 1,15 kali turun sebesar 1,08% dari tahun 2007, dan pada tahun 2009 rasio pengeluaran modal hanya sebesar 0,91 kali atau turun sebesar 0,24 dari tahun 2008 sehingga kemampuan arus kas operasi dalam membiayai pengeluaran modal hanya sebesar 0,91 kali. Pada tahun 2010 rasio pengeluaran modal adalah sebesar 2,72 atau naik sebesar 1,81% dari tahun 2009 sehingga kemampuan arus kas operasi dalam membiayai pengeluaran modal meningkat menjadi 2,72 kali, hal ini karena pada tahun 2010 arus kas operasi cukup tinggi dan merupakan arus kas tertinggi sepanjang lima tahun tersebut yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2011. Pada tahun 2011
 turun sebesar 1,01% dari tahun 2010 menjadi 1,71 kali yang berarti kemampuan arus kas operasi dalam membiayai pengeluaran modal adalah sebesar 1,71 kali.
Rasio pengeluaran modal selama lima tahun (2007-2011) diatas menunjukkan angka rasio yang rendah sehingga kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan dalam membiayai pengeluaran modalnya melalui arus kas operasi saja.
 Rasio Total Hutang (TH)
Rasio ini diperoleh dari arus kas operasi dibagi dengan total hutang. dengan rasio ini bisa diketahui berapa lama perusahaan akan mampu membayar hutang dengan menggunakan arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi.
Perhitungan rasio total hutang yaitu dengan cara membagi arus kas operasi dengan total hutang perusahaan. Rumus rasio total dapat ditulis sebagai berikut :
Berikut hasil perhitungan rasio total hutang seperti yang terlihat pada tabel 7 di bawah ini.
Tabel 7.
Rasio Total Hutang (TH)
Tahun 2007 – 2011
Tahun
Arus Kas Operasi
Total Hutang
%
2007
2.613.759
18.791.384
14%
2008
2.684.806
26.432.369
10%
2009
2.649.472
24.886.781
11%
2010
6.989.734
22.423.117
31%
2011
4.968.991
21.975.708
23%
Sumber : data diolah
 Dari hasil perhitungan pada tabel 7 diatas terlihat bahwa rasio total hutang untuk tahun 2007 adalah sebesar 14% yang berarti total hutang perusahaan yang dijamin dengan arus kas operasi bersih adalah sebesar 14% sedangkan untuk tahun 2008 turun sebesar 4% menjadi 10% yang diakibat karena total hutang yang tinggi pada tahun tersebut. Pada tahun 2009 rasio total hutang adalah 11% atau naik sebesar 1% dari tahun 2008 yang berarti arus kas operasi mampu menjamin total hutang perusahaan sebesar 11%. Pada tahun 2010 rasio total hutang adalah sebesar 31% naik sebesar 20% dari tahun 2009 karena arus kas operasi pada tahun tersebut cukup tinggi dari tahun tahun selainnya. Pada tahun 2011 adalah
 sebesar 23% atau turun sebesar 8% dari tahun 2010 sehingga arus kas operasi hanya mampu menjamin total hutang perusahaan sebesar 23%.
Dari hasil rasio pada tabel 7 diatas terlihat bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang rendah dalam membayar total hutangnya melalui arus kas operasi bersih perusahaan, sehingga perusahaan harus memiliki sumber arus kas selain arus kas normal perusahaan untuk menutupi total hutangnya.
Rasio Arus Kas Bersih Bebas (AKBB)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban kas di masa mendatang.
 Hasil rasio arus kas bersih bebas terlihat pada tabel 8 ini.
Tabel 8
Rasio Arus Kas Bersih Bebas (AKBB)
Tahun 2007 – 2011
Tahun
Laba
  Depre siasi
    Hutang
Hutang
%
Bersih
Bunga
Deviden
Modal
Jk. Panjang
Leasing
2007
1.350.717
739.693
810.556
264.386
1.169.762
3.655.698
5.704
45%
2008
1.798.270
1.054.920
923.647
366.730
2.332.303
7.200.598
8.058
22%
2009
2.726.309
1.571.142
678.710
412.680
2.917.901
10.568.331
5.204
20%
2010
4.016.793
1.179.098
852.059
816.580
2.567.110
9.252.958
970
41%
2011
5.017.425
877.012
875.908
1.167.798
2.906.415
5.674.567
50
77%
Sumber : data diolah
 Dari hasil perhitungan pada tabel 8 diatas terlihat bahwa nilai rasio arus kas bersih bebas tahun 2007 adalah sebesar 45% yang berarti dari semua jumlah arus kas yang dimiliki oleh perusahaan sebanyak 55% adalah arus kas yang bebas digunakan untuk investasi sedangkan yang 45% digunakan untuk membayar semua kewajiban yang akan jatuh tempo. Kemudian pada tahun 2008 rasio arus kas bersih bebas adalah sebesar 22% atau turun sebesar 23% dari tahun 2007 sehingga arus kas bersih yang bebas digunakan oleh perusahaan adalah 78% sedangkan 22% digunakan untuk membayar semua kewajiban yang akan jatuh tempo. Pada tahun 2009 rasio arus kas bersih bebas adalah 20% mengalami penurunan sebesar 2% dari tahun sebelumnya, sehingga arus kas bersih yang bebas digunakan adalah sebesar 80% dan 20% adalah untuk membayar semua kewajiban yang akan jatuh tempo. Pada tahun 2010 meningkat sebesar 21% menjadi 41% yang digunakan untuk membayar semua kewajiban yang akan jatuh tempo sedangkan sebesar 59% merupakan arus kas bersih yang bebas digunakan untuk investasi. Dan pada tahun 2011 terjadi
 peningkatan sebesar 36% dari tahun 2010 yaitu sebesar 77%, sehingga arus kas bersih yang bebas digunakan adalah sebesar 23% dan arus kas yang digunakan untuk membayar semua kewajiban yang akan jatuh tempo adalah sebesar 77%.
Dari rentang 5 tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 terlihat bahwa rasio arus kas bersih bebas PT. Indofood Sukses Makmur cendrung berfluktuatif dan mengalami peningkatan yang cukup baik pada tahun 2011 dibandingkan tahun tahun selainnya.
 Analisis Rasio Arus Kas Sebagai Alat Ukur Kinerja
Kinerja keuangan dapat dikatakan sebagai hasil yang dicapai oleh perusahaan atas berbagai aktivitas yang dilakukan dalam mendayagunakan sumber keuangan yang tersedia. Dalam penelitian ini kinerja keuangan diukur dari laporan arus kas PT. Indofood Sukses Makmur selama 5 (lima) tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.
Berikut penulis sajikan tabel 9 mengenai hasil perhitungan rasio rasio arus kas selama 5 (lima) tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.


Tabel 9
Rasio Rasio Arus Kas PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk
Tahun 2007 – 2011
Rasio Rasio Arus Kas
2007
2008
2009
2010
2011
Rasio Arus Kas Operasi (AKO)
0,20
0,17
0,24
0,71
0,39
Rasio Cakupan Arus Dana (CAD)
1,65
1,57
1,85
3,30
4,91
Rasio Cakupan Kas terhadap Bunga (CKB)
5,49
4,82
3,92
8,53
8,75
Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar (CKHL)
0,20
0,17
0,24
0,71
0,39
Rasio Rasio Arus Kas
2007
2008
2009
2010
2011
Rasio Pengeluaran Modal (PM)
2,23
1,15
0,91
2,72
1,71
Rasio Total Hutang (TH)
0,14
0,10
0,11
0,31
0,23
Rasio Arus Kas Bersih Bebas (AKBB)
0,45
0,22
0,20
0,41
0,77
Sumber : Data diolah
 Dari tabel 9 dapat diketahui bahwa rasio arus kas operasi tahun 2007 sampai dengan 2011 menunjukkan pencapaian kurang dari 1 sehingga kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban lancarnya melalui kas dari aktivitas operasi saja.
Sedangkan rasio cakupan arus dana 5 tahun berturut turut (2007 – 2011) terlihat bahwa terjadi perbaikan dan peningkatan rasio cakupan dana khususnya pada tahun 2010 dan tahun 2011, yang berarti laba sebelum pajak PT. Indofood Sukses Makmur mengalami peningkatan yang cukup baik dan dibarengi dengan tingginya jumlah penurunan pembayaran bunga. Namun, dari nilai nilai rasio yang dihasilkan pada tahun 2007 – 2009 masih cukup rendah dan mengalami sedikit perbaikan pada tahun 2010 dan tahun 2011.
Rasio cakupan arus kas terhadap bunga selama lima tahun berturut turut (2007–2011) mengalami penurunan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009, namun terjadi peningkatan pada tahun 2010 dan 2011 yang berarti kemampuan arus kas operasi dalam menutup biaya bunga perusahaan mengalami pening katan khususnya pada tahun-tahun terakhir yaitu tahun 2010 dan tahun 2011.
Untuk rasio cakupan kas terhadap hutang lancar dalam rentang 5 tahun ini (2007 – 2011) PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk menunjukkan kemampuan arus kas operasi yang rendah dalam menutupi hutang lancarnya, dan dari rasio rasio yang dihasilkan terlihat adanya perbaikan dan peningkatan pada tahun 2010 dan 2011 namun tetap menunjukkan nilai rasio yang rendah sehingga kemungkinan perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menutupi kewajiban lancarnya.
Rasio pengeluaran modal selama lima tahun (2007-2011) diatas juga menunjukkan angka rasio yang rendah sehingga kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan dalam membiayai pengeluaran modalnya melalui arus kas operasi saja. Dan dari hasil rasio pada tabel 9 diatas juga terlihat bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang rendah dalam membayar total hutangnya melalui arus kas operasi bersih perusahaan, sehingga perusahaan harus memiliki sumber arus kas selain arus kas normal perusahaan untuk menutupi total hutangnya.
Sedangkan rasio arus kas bersih bebas selama 5 tahun yaitu tahun 2007 – 2011 cendrung berfluktuatif dan mengalami peningkatan yang cukup baik pada tahun 2011 dibandingkan tahun tahun selainnya. Dari tabel 9 di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja perusahaan selama 5 (lima) tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 yang diukur dari rasio laporan arus kas adalah kurang baik hal ini bisa dilihat dari nilai rasio yang dihasilkan dari masing masing rasio rasio arus kas di atas. Dari tahun 2007 sampai 2009 rata rata rasio yang dihasilkan cendrung rendah tapi tahun 2010 dan 2011 yang ditandai dengan meningkatnya nilai rasio dari masing masing rasio di atas.



.

LAPORAN KEUANGAN PT GUDANG GARAM Tbk


Analisa Likuiditas, Solvabilitas, dan Rentabilitas Laporan Keuangan
“PT. GUDANG GARAM Tbk.”
1.    LIKUIDITAS PERUSAHAAN
Likuiditas adalah  masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.  Masalah likuiditas dapat dihitung dengan dua cara, yaitu dengan cara perhitungan menggunakan rasio (quick ratio, current ratio, dan cash ratio) dan dengan menghitung periode penagihan rata- rata (average collection period). Untuk laporan keuangan diatas digunakan pendekatan yang pertama yaitu dengan  perhitung rasio (Current Ratio, Quick Ratio, dan Cash Ratio)
a.      Current Ratio
Current Ratio = (Aktiva Lancar/Kewajiban Lancar) x 100%
Tahun 2008 Current Ratio = (17.955.845/9.437.259) x 100% = 1,9%
Tahun 2007 Current Ratio = (Rp. 15.027.032/) x 100% = 1,95%
Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuidasi, sebaliknya current ratio yang terlalu tinggi juga kurang bagus, karena menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan laba perusahaan. Pada laporan keuangan diatas terjadi penurunan current ratio dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 0,05%.
b.      Quick Ratio/Acid Test Ratio
Quick Ratio = ((Aktiva Lancar – Persediaan)/Kewajiban Lancar)) x 100%
Tahun 2008 Quick Ratio = ((Rp.17.955.845-Rp.14.016.039)/ Rp.9.437.259)) x 100% = 0,41%
Tahun 2007 Quick Ratio = ((Rp.15.027.032-Rp. 11.877.086)/ Rp.7.697.918)) x 100% = 0,40%
Semakin besar quick ratio maka semakin baik pula perusahaan pula kondisi perusahaan. Namun apabila quick ratio memiliki perbandingan 1:1 atau 100%  perusahaan tersebut dianggap kurang baik. Dalam laporan keuangan ini dapat diketahui adanya sedikit peningkatan quck ratio dari 0,40% menjadi 0,41%. Yang berarti perusahaan masih dalam keadaan stabil.
c.       Cash Ratio
Cash Ratio = (Kas/Kewajiban Lancar) x 100%
Tahun 2008 Cash Ratio = (Rp. 411.689/ Rp.9.437.259) x 100% = 0,043%
Tahun 2007 Cash Ratio = (Rp. 289.152/ Rp. 7.697.918) x 100% = 0,037%
Rasio ini menunjukan kemampuan kas untuk menutupi hutang lancar. PT. GUDANG GARAM Tbk. mengalami peningkatan dalam menutupi hutang lancar. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya presentasi cash ratio, yaitu dari 0,037% menjadi 0,043%.
2.      PERPUTARAN PIUTANG
Rasio perputaran piutang memberikan analisa mengenai beberapa kali tiap tahunnya dana yang tertanam dalam piutang berputar dari bentuk piutang kebentuk uang tunai, kemudian kembali kebentuk piutang lagi. Makin tinggi rasio ( turnover ) menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah, sebaliknya kalau rasio semakin rendah berarti ada over investment dalam piutang sehingga memerlukan analisa lebih lanjut, mungkin karena bagian kredit dan penagihan bekerja tidak efektif atau mungkin ada perubahan dalam kebijaksanaan pemberian kredit.
Cara perhitungan perputaran piutang dapat dilakukan dengan rumus :
Perputaran Piutang = (Penjualan Kredit/Utang Usaha) x 100%
Tahun 2008 Perputaran Piutang = (Rp.15.056.347/ Rp.200.266) x 100% = 75,1%
Tahun 2007 Perputaran Piutang = (Rp.13.419.733/ Rp.  128.837) x 100% = 104,1%
3.      SOLVABILITAS PERUSAHAAN
Solvabilitas Perusahaan berguna untuk menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya jika perusahaan tersebut dilikuidasi. Suatu perusahaan dikatakan Solvabel jika perusahaan itu mempunyai aktiva yang cukup untuk membayar semua hutang-hutangnya , baik yang jangka panjang maupun jangka pendek. Jika perusahaan tidak mempunyai cukup aktiva untuk membayar segala hutangnya, maka perusahaan tersebut dikatakan insolvabel.
Dalam  hubungan antara  likuiditas  dan solvabilitas  ada empat   kemungkinan  yang dapat   dialami  oleh perusahaan yaitu :
a. Perusahaan yang likuid  tetapi insolvable
b. Perusahaan  yang likuid  dan solvable
c. Perusahaan yang solvabel  tetapi ilikuid
d. Perusahaan  yang insolvabel  dan ilikuid
Tingkat   solvabilitas  diukur  dengan beberapa   rasio,  yaitu :
a.      Total Debt to Equity Ratio
Total Debt Equty Ratio = (Total Utang/Ekuitas) x 100%
Tahun 2008 Perputaran Piutang = (Rp.10.359.076/ Rp.14.530.132) x 100% = 0,71%
Tahun 2007 Perputaran Piutang = (Rp.8.474.564/ Rp.13.386.776) x 100% = 0,63%
b.      Total Debt to Asset Ratio
Total Debt to Asset Ratio = (Total Utang/Total Aktiva) x 100%
Tahun 2008 Total Debt to Asset Ratio = (Rp.10.359.076/ Rp.20.904.022) x 100% = 0,49%
Tahun 2007 Total Debt to Asset Ratio = (Rp.8.474.564/ Rp.21.878.013) x 100% = 0,38%
4.      RENTABILITAS PERUSAHAAN
Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan anatara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Perhitungan rentabilitas berbeda-beda untuk setiap perusahaan. Hal ini terjadi karena perbedaan antara aktiva dan laba yang mana yang akan dibandingkan dengan yang lain.
Adapun  cara penilaian  Rentabilitas  adalah :
a.       Gross Provit Margin (Margin Laba Kotor)
Rumus :
GPM = (Laba Kotor/Penjualan Bersih) x 100%
Tahun 2008 GPM = (Rp.2.427.250/ Rp.15.056.347) x 100% = 0,16%
Tahun 2007 GPM = (Rp.2.485.648/ Rp.13.419.733) x 100% = 0,18%
b.      Net Profit Margin (Margin Laba Besih)
Rumus :
NPM = (Laba Setelah Pajak/Total Aktiva) x 100%
Tahun 2008 NPM = (Rp.891.358/ Rp.24.904.022) x 100% = 0,035%
Tahun 2007 NPM = (Rp.710.565/ Rp.21.878.013) x 100% = 0,032%
c.       Earning Power of Total Investment
Rumus :
EPTI = (Laba Sebelum Pajak/Ekuitas) x 100%
Tahun 2008 EPTI = (Rp.1.313.392/ Rp.14.530.132) x 100% = 0,09%
Tahun 2007 EPTI = (Rp.1.084.495/ Rp.13.386.776) x 100% = 0,08%
d.      Return On Equity (Pengembalian Atas Equitas)
Rumus :
ROE = (Laba Setelah Pajak/Ekuitas) x 100%
Tahun 2008 ROE = (Rp. 891.358/Rp. 14.530.132) x 100% = 0,61%

Tahun 2007 ROE = (Rp.710.565/ Rp.13.386.776) x 100% = 0,3%

LAPORAN KEUANGAN & BEP PKM DISPORA "KETAN KERATON"


LAPORAN KEUANGAN PKM DISPORA
“KETAN KERATON”

Bulan 0
Bulan 1
Bulan 2
Bulan 3
Bulan 4
Bulan 5
Saldo Awal
Rp 12.500.000,-
Rp.1.351.000
Rp.7.191.000
Rp.13.531.000,-
Rp.21.771.000,-
Rp.31.911.000,-
Pendapatan
-
Rp. 8.800.000,-
Rp. 9.300.000,-
Rp.11.200.000,-
Rp.13.100.000,-
Rp.15.000.000,-







Pengeluaran






Peralatan
Rp.7.804.000,-
-
-
-
-
-
Bahan Baku
Rp. 2.091.000,-
Rp. 2.091.000,-
Rp. 2.091.000,-
Rp. 2.091.000,-
Rp. 2.091.000,-
Rp. 2.091.000,-
Transportasi
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 100.000,-
Lain-lain
Rp.319.000,-
Rp.319.000,-
Rp.319.000,-
Rp.319.000,-
Rp.319.000,-
Rp.319.000,-
Sewa Tempat
Rp.450.000,-
Rp.450.000,-
Rp.450.000,-
Rp.450.000,-
Rp.450.000,-
Rp.450.000,-
Tester
Rp.385.000,-
-
-
-
-
-
Total Pengeluaran
Rp.11.490.000,-
Rp.2.960.000
Rp.2.960.000
Rp.2.960.000
Rp.2.960.000
Rp.2.960.000
Saldo Akhir
Rp.1.351.000
Rp.7.191.000
Rp.13.531.000,-
Rp.21.771.000,-
Rp.31.911.000,-
Rp.43.951.000,-

ANGGARAN BIAYA
NO
JENIS PENGELUARAN
BIAYA (RP)
1
Perijinan
Rp 3.200.000
2
Peralatan Masak
Rp 3.745.500
3
Peralatan Makan
Rp 709.000
4
Bahan Habis Pakai
Rp 263.500
5
Dekorasi warung
Rp 3.378.000
6
Uji Produk
Rp 385.000
7
Transportasi
Rp 500.000
8
Biaya Lain-lain
Rp 829.000
JUMLAH
12.500.000




Justifikasi Anggaran
Keterangan
Variabel
Harga
Per @
Banyak
Total
Perijinan
Sewa Tempat
3.000.000
1 tahun

3.000.000
Listrik + Air
200.000
1 bulan

200.000
Peralatan Masak
Dandang
108.000
1 buah

108.000
Pemanggang
150.000
1 buah

150.000
Kompor Gas
350.000
1 buah

350.000
Tabung Gas 3kg
137.500
1 buah

137.500
Gerobak
3.000.000
1 buah

3.000.000
Peralatan Makan
Mangkuk
8.000
1 buah
20
160.000
Sendok
25.000
1 lusin
2
50.000
Garpu
25.000
1 lusin
2
50.000
Pisau
7.500
1 buah
2
15.000
Piring
5.000
1 buah
10
50.000
Gelas
8.000
1 buah
20
160.000
Parutan Coklat
7.000
1 buah
2
14.000
Toples
30.000
1 buah
6
180.000
Ember
15.000
1 buah
2
30.000
Bahan



Habis Pakai
Ketan
13.500
1 kg
5kg
67.500
Susu
8.000
1 kaleng
2
16.000
Coklat
8.500
1 batang
2
17.000
Keju
12.500
1 batang
2
25.000
Serundeng
10.000
1 ons
1
10.000
Abon
18.000
1 ons
1
18.000
Kelapa
5.000
1 buah
1
5.000
Santan
2500
1 bungkus
2
5.000
Buah
100.000
1 paket

100.000

Dekorasi Warung
Lampu
30.000
1 buah
5
150.000
Kulkas
1.500.000
1 buah
1
1.500.000
Wallpaper dinding
7.500
1 meter
20
150.000
Mebel
250.000
1 buah
4
1.000.000
Kipas Angin
250.000
1 buah
1
250.000
Peta
10.000
1 buah
10
100.000
Lukisan
50.000
1 buah
4
200.000
Promosi
Pamflet
1.400
1 buah
20
28.000
Akomodasi
Transportasi
100.000
1 orang
5
500.000
Uji Produk
Taster
55.000
1 produk
7
385.000
Biaya lain-lain
319.000
Total
12.500.000

Proyeksi Penjualan
1.      Biaya produksi per-10 porsi ketan abdi dalem :
ketan ½ kg                              6.750
Abon                                       2000
1000 cc santan                                    2000
Total                                        10.750
Target penjualan                      10.750/10 =1075
Harga jual                                4000
Keuntungan                            4000-1075= 2925
VC
1075 x 300 = 322.500
FC
Tempat        = Rp. 250.000
Air + listrik = Rp 200.000
Total           = Rp 450.000
 =  154 porsi





BEP    = P . Q
            = 4000 . 154
            = 616.000
Keuntungan = 4000 x 300 = 1.200.000
Laba = 1.200.000 – 616.000 = Rp. 584.000/ bulan
2.      Biaya produksi per-10 porsi ketan abdi sentana :
ketan ½ kg                              6.750
kelapa parut                             2000
gula jawa                                 2000
1000 cc santan                                    2000
Total                                        12.750
Target penjualan                      12.750/10 =1275
Harga jual                                4000
Keuntungan                            4000-1275= 2725
VC
1275 x 300 = 382.500
FC
Tempat        = Rp. 250.000
Air + listrik = Rp 200.000
Total           = Rp 450.000
 =  165 porsi





BEP    = P . Q
            = 4000 . 165
            = 660.000
Keuntungan = 4000 x 300 = 1.200.000
Laba = 1.200.000 – 606.000 = Rp. 540.000/ bulan
3.      Biaya produksi per-10 porsi ketan kanjeng :
ketan ½ kg                              6.750
toping buah                             9000
Susu cair                                  5000
1000 cc santan                                    2000
Total                                        22.750
Target penjualan                      22.750/10 =2275
Harga jual                                6000
Keuntungan                            6000-2275= 3725
VC
2275 x 300 = 682.500
FC
Tempat        = Rp. 250.000
Air + listrik = Rp 200.000
Total           = Rp 450.000
 =  121 porsi





BEP    = P . Q
            = 6000 . 121
            = 726.000
Keuntungan = 6000 x 300 = 1.800.000
Laba = 1.800.000 – 726.000 = Rp. 1.074.000/ bulan
4.      Biaya produksi per-10 porsi ketan londo :
ketan ½ kg                              6.750
Abon                                       2000
Daun pandan                           1000
1000 cc santan                                    2000
Total                                        11.750
Target penjualan                      11.750/10 =1175
Harga jual                                5000
Keuntungan                            5000-1175= 3825
VC
1175 x 300 = 352.500
FC
Tempat        = Rp. 250.000
Air + listrik = Rp 200.000
Total           = Rp 450.000
 =  117 porsi





BEP    = P . Q
            = 5000 . 117
            = 585.000
Keuntungan = 5000 x 300 = 1.500.000
Laba = 1.500.000 – 585.000 = Rp. 915.000/ bulan
5.      Biaya produksi per-10 porsi ketan abdi bendara :
ketan ½ kg                              6.750
toping                                      9000
susu cair                                  5000
Daun pisang                            1000
1000 cc santan                                    2000
Total                                        23.750
Target penjualan                      23.750/10 =2375
Harga jual                                6000
Keuntungan                            6000-2375= 3625
VC
2375 x 300 = 712.500
FC
Tempat        = Rp. 250.000
Air + listrik = Rp 200.000
Total           = Rp 450.000
 =  124 porsi





BEP    = P . Q
            = 6000 . 124
            = 744.000
Keuntungan = 6000 x 300 = 1.800.000
Laba = 1.800.000 – 744.000 = Rp. 1.056.000/ bulan
6.      Biaya produksi per-10 porsi ketan sultan :
ketan ½ kg                              6.750
durian                                      25000
toping                                      9000
1000 cc santan                                    2000
Total                                        42.750
Target penjualan                      42.750/10 =4275
Harga jual                                8000
Keuntungan                            8000-4275= 3725

VC
4275 x 300 = 1.282.500
FC
Tempat        = Rp. 250.000
Air + listrik = Rp 200.000
Total           = Rp 450.000
 =  121 porsi




BEP    = P . Q
            = 8000 . 121
            = 968.000
Keuntungan = 8000 x 300 = 2.400.000
Laba = 2.400.000 – 968.000 = Rp. 1.432.000/ bulan
7.      Biaya produksi per-10 porsi ketan Gusti :
ketan ½ kg                              6.750
Coklat/oreo                             9000
Susu cair                                  500
1000 cc santan                                    2000
Total                                        18.250
Target penjualan                      18.250/10 =1825
Harga jual                                5000
Keuntungan                            5000-1825= 3175
VC
1825 x 300 = 547.500
FC
Tempat        = Rp. 250.000
Air + listrik = Rp 200.000
Total           = Rp 450.000
 =  142 porsi





BEP    = P . Q
            = 5000 . 142
            = 710.000
Keuntungan = 5000 x 300 = 1.500.000
Laba = 1.500.000 – 710.000 = Rp. 790.000/ bulan
a.      Analisis Penjualan
v  Ketan Abdi Dalem
Bulan
Unit
Harga
Total Penjualan
Bulan 1
 300
Rp. 4.000
Rp. 1.200.000
Bulan 2
300
Rp. 4.000
Rp. 1.200.000
Bulan 3
350
Rp. 4.000
Rp. 1.400.000
Bulan 4
400
Rp. 4.000
Rp. 1.600.000
Bulan 5
450
Rp. 4.000
Rp. 1.800.000

b.      Analisis Penjualan
v  Ketan Abdi Sentana
Bulan
Unit
Harga
Total Penjualan
Bulan 1
 300
Rp. 4.000
Rp. 1.200.000
Bulan 2
300
Rp. 4.000
Rp. 1.200.000
Bulan 3
350
Rp. 4.000
Rp. 1.400.000
Bulan 4
400
Rp. 4.000
Rp. 1.600.000
Bulan 5
450
Rp. 4.000
Rp. 1.800.000

c.       Analisis Penjualan
v  Ketan Kanjeng
Bulan
Unit
Harga
Total Penjualan
Bulan 1
 200
Rp. 6.000
Rp. 1.200.000
Bulan 2
250
Rp. 6.000
Rp. 1.500.000
Bulan 3
300
Rp. 6.000
Rp. 1.800.000
Bulan 4
350
Rp. 6.000
Rp. 2.100.000
Bulan 5
400
Rp. 6.000
Rp. 2.400.000

d.      Analisis Penjualan
v  Ketan Londo
Bulan
Unit
Harga
Total Penjualan
Bulan 1
 300
Rp. 5.000
Rp. 1.500.000
Bulan 2
300
Rp. 5.000
Rp. 1.500.000
Bulan 3
350
Rp. 5.000
Rp. 1.750.000
Bulan 4
400
Rp. 5.000
Rp. 2.000.000
Bulan 5
450
Rp. 5.000
Rp. 2.250.000
e.       Analisis Penjualan
v  Ketan Abdi Bendara
Bulan
Unit
Harga
Total Penjualan
Bulan 1
 200
Rp. 6.000
Rp. 1.200.000
Bulan 2
200
Rp. 6.000
Rp. 1.200.000
Bulan 3
250
Rp. 6.000
Rp. 1.500.000
Bulan 4
300
Rp. 6.000
Rp. 1.800.000
Bulan 5
350
Rp. 6.000
Rp. 2.100.000
f.       Analisis Penjualan
v  Ketan Abdi Sultan
Bulan
Unit
Harga
Total Penjualan
Bulan 1
 150
Rp. 8.000
Rp. 1.200.000
Bulan 2
150
Rp. 8.000
Rp. 1.200.000
Bulan 3
200
Rp. 8.000
Rp. 1.600.000
Bulan 4
250
Rp. 8.000
Rp. 2.000.000
Bulan 5
300
Rp. 8.000
Rp. 2.400.000
g.      Analisis Penjualan
v  Ketan Gusti
Bulan
Unit
Harga
Total Penjualan
Bulan 1
 300
Rp. 5.000
Rp. 1.500.000
Bulan 2
300
Rp. 5.000
Rp. 1.500.000
Bulan 3
350
Rp. 5.000
Rp. 1.750.000
Bulan 4
400
Rp. 5.000
Rp. 2.000.000
Bulan 5
450
Rp. 5.000
Rp. 2.250.000

Rencana Arus Kas

Bulan Satu
Bulan Kedua
Keterangan Perizinan
Harga
Jumlah
Total
Harga
Jumlah
Total
Sewa Tempat
Rp250.000

Rp250.000
Rp250.000

Rp250.000
Listrik Air
Rp200.000

Rp200.000
Rp200.000

Rp200.000
Biaya Habis Pakai






Bahan baku
Rp263.500

Rp263.500
Rp263.500

Rp263.500
Minum+pelengkap
Rp250.000

Rp250.000
Rp250.000

Rp250.000
Peralatan Penunjang






Peralatan masak
Rp3.608.000

Rp3.608.000



Peralatan Makan
Rp709.000

Rp709.000



Gas LPG
Rp137.500
1
Rp137.500
Rp20.000
1
Rp20.000
Kulkas
Rp1.500.000

Rp1.500.000



Dekorasi Warung
Rp1.850.000

Rp1.850.000



Promosi






Pamflet
Rp1.400
20
Rp280.000



Uji Coba Produk






Tester
Rp375.000
1
Rp375.000



Akomodasi






Transportasi








Bulan Tiga
Bulan Empat
Keterangan Perizinan
Harga
Jumlah
Total
Harga
Jumlah
Total
Sewa Tempat
Rp250.000

Rp250.000
Rp250.000

Rp250.000
Listrik Air
Rp200.000

Rp200.000
Rp200.000

Rp200.000
Biaya Habis Pakai






Bahan baku
Rp263.500

Rp263.500
Rp263.500

Rp263.500
Minum+pelengkap
Rp250.000

Rp250.000
Rp250.000

Rp250.000
Peralatan Penunjang






Gas LPG
Rp20.000
1
Rp20.000
Rp20.000
1
Rp20.000
Promosi






Pamflet
Rp1.400
20
Rp2.800





Bulan Lima
Keterangan Perizinan
Harga
Jumlah
Total
Sewa Tempat
Rp250.000

Rp250.000
Listrik Air
Rp200.000

Rp200.000
Biaya Habis Pakai



Bahan baku
Rp263.500

Rp263.500
Minum+pelengkap
Rp250.000

Rp250.000
Peralatan Penunjang



Gas LPG
Rp20.000
1
Rp20.000
Promosi



Pamflet
Rp1.400
20
Rp2.800